👀 Pengunjung Hari Ini: 0
Logo Anak Bintang School Sleman

Anak Bintang School

Memuat AI Greeting...
Menelaah Pengaruh Orang Tua dan Teman Sebaya terhadap Perkembangan Anak Usia Dini : Siapa yang Lebih Dominan?
📚 Artikel Edukasi
Artikel Anak Bintang School

Menelaah Pengaruh Orang Tua dan Teman Sebaya terhadap Perkembangan Anak Usia Dini : Siapa yang Lebih Dominan?

Program Studi Bimbingan dan Konseling

Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Wates

Karakteristik perkembangan anak usia dini mencakup tiga aspek utama, yaitu kognitif pada tahap praoperasional Jean Piaget, emosi berupa kepekaan emosional dan dorongan bertindak, serta psikososial pada tahap kemandirian dan inisiatif Erik Erikson. Pertumbuhan fisik dan psikis pada masa keemasan (golden age) ini menjadi fondasi bagi masa depan anak di tengah tantangan globalisasi. Menggunakan metode studi literatur normatif-deskriptif berdasarkan teori perkembangan anak, kajian ini menganalisis faktor lingkungan yang memengaruhi tumbuh kembang tersebut, khususnya peran orang tua dan teman sebaya. Hasil analisis menunjukkan bahwa perhatian dan peran orang tua merupakan faktor paling dominan melalui pembentukan kelekatan aman (secure attachment) dan pemodelan perilaku. Implikasinya menegaskan bahwa layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di tingkat PAUD harus melibatkan orang tua sebagai mitra utama melalui parenting, menerapkan pendekatan berbasis bermain, serta mengutamakan deteksi dini terhadap hambatan perkembangan anak.

Kata Kunci: Anak Usia Dini, Perkembangan Anak, Peran Orang Tua, Bimbingan Konseling PAUD.

Anak usia dini sering dikenal juga dengan istilah anak prasekolah, mereka memiliki masa peka dalam perkembangannya dan terjadi pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon berbagai rangsangan dari lingkungannya. Pendidikan saat ini menghadapi tantangan besar sebagai akibat dari arus globalisasi, sehingga berbagai upaya perlu dilakukan agar peserta didik kelak mampu mendapatkan kehidupan yang layak di negaranya sendiri ataupun di luar negeri. Pendidikan anak pertama kali diperoleh dari lingkungan keluarga terutama dari kedua orang tuanya. Selanjutnya anak akan berinteraksi dengan lingkungan keduanya yang tidak lain adalah lembaga pendidikan. Sebuah periode yang sering disebut sebagai golden age atau masa keemasan. Pada periode ini, berbagai aspek perkembangan anak kognitif, emosi, dan psikososial mengalami pertumbuhan yang sangat pesat dan menjadi fondasi bagi perkembangan selanjutnya.

Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini

Istilah kognitif (cognitive) berasal dari kata cognition atau knowing berarti konsep luas dan inklusi yang mengacu pada kegiatan mental yang tampak dalam pemerolehan, organisasi/penataan dan penggunaan pengetahuan. Dalam arti yang luas, kognitif merupakan ranah kejiwaan yang berpusat di otak dan berhubungan dengan konasi (kehendak), afeksi (perasaan). Perkembangan kognitif merujuk pada kemampuan individu untuk mengolah informasi, berpikir, memecahkan masalah, dan memahami dunia di sekitarnya. Menurut teori perkembangan kognitif Jean Piaget, anak usia dini berada pada tahap praoperasional (usia 2-7 tahun), di mana mereka cenderung berpikir egosentris melihat dunia hanya dari perspektif mereka sendiri dan belum mampu melakukan operasi logis secara sistematis. Tujuan pengembangan kognitif pada anak usia dini adalah mengoptimalkan kemampuan berpikir agar anak dapat mengelola hasil belajar, mengeksplorasi berbagai alternatif pemecahan masalah, serta membangun logika dasar melalui pendekatan seperti pembelajaran berbasis sentra, yang memberikan kesempatan bagi anak untuk bermain aktif sambil membangun pengetahuan secara mandiri.

Masa anak usia dini atau masa awal kanak-kanak memiliki berbagai karakteristik yang tercermin dalam sebutan-sebutan dari para orang tua, pendidik, dan ahli psikologi (Masher Riana, 2011: 7). Dari aspek psikologis, emosi yang berasal dari bahasa latin movere (menggerakkan/bergerak) diartikan sebagai dorongan untuk bertindak yang merujuk pada suatu perasaan atau pikiran khas, seperti amarah, ketakutan, kebahagiaan, cinta, rasa terkejut, jijik, dan sedih (Mashar, 2015). Hurlock (1993) menyatakan bahwa karakter emosi anak usia dini sangat kuat pada usia 2,5-3,5 tahun dan 5,5-6,5 tahun, di mana salah satu ciri utamanya adalah reaksi emosi anak sangat kuat karena mereka merespons suatu peristiwa dengan kadar kondisi emosi yang sama. Dengan demikian, perkembangan emosi merupakan kepekaan anak untuk memahami perasaan orang lain ketika berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan ini dipengaruhi oleh figur ibu dan ayah, lingkungan sekitar, serta teman sebaya. Karena perkembangan emosi yang positif dapat memudahkan anak dalam beraktivitas di lingkungan sosial, maka sangat penting untuk membantu anak-anak memahami perasaan mereka sendiri maupun perasaan orang-orang di sekitarnya.

Menurut Erikson, perkembangan psikososial adalah proses matangnya organisme secara fisik dan psikologis yang dibentuk dari kelahiran hingga kematian melalui interaksi pengaruh sosial, termasuk perubahan kepribadian, perasaan, emosi, serta cara berkomunikasi dengan orang lain. Perkembangan psikososial ini merupakan aspek penting dalam kesejahteraan mental dan emosional anak karena melibatkan interaksi faktor psikologis dan sosial yang mempengaruhi kepribadian serta kemampuan sosialnya (Arini, 2021). Erik Erikson menyatakan bahwa anak usia dini menghadapi dua tahap perkembangan psikososial utama: autonomy vs. shame and doubt (usia 1-3 tahun) saat anak mulai mengembangkan kemandirian, serta initiative vs. guilt (usia 3-6 tahun) saat anak mulai berinisiatif dalam aktivitas dan membangun rasa percaya diri. Perkembangan psikososial yang optimal ini pada akhirnya akan membentuk anak yang mampu bersosialisasi dengan baik, memiliki konsep diri yang positif, serta mampu beradaptasi dengan lingkungan baru termasuk sekolah.

Pengaruh Orang Tua dan Teman Sebaya

Bagikan artikel ini
WhatsApp