Di pagi itu, mata saya tertuju pada seorang ibu yang memandang anaknya yang berusia empat tahun, bibirnya menunjukan senyuman indah, namun matanya terlihat berkaca-kaca, hari itu adalah hari pertama sekolah putrinya. Setelah saya hampiri, ibu itu bercerita bahwa ia tidak pernah menyangka anaknya bisa bermain dengan temannya tanpa menangis.
Hari pertama sekolah ada banyak cerita, ada anak yang langsung bermain, ada yang menangis, ada anak yang tak mau lepas dari orangtuanya, bahkan ada guru yang harus menggandeng beberapa anak, agar tetap tenang. Hari pertama sekolah seakan-akan hari yang memacu adrenalin guru dan orangtua, terutama di tingkatan PAUD.
Riuh suara yang cukup banyak harus bisa didengarkan untuk dipilah dan dipilih mana yang prioritas di dengarkan. Bagi seorang guru mungkin ini cukup biasa karena terjadi dalam setiap tahun ajaran baru, tetapi bagi orangtua berbeda.
Orangtua yang baru menyekolahkan anak pertamanya di tingkat PAUD, tentu momen ini menjadi momen yang sangat istimewa, bagaimana tidak, sikecil yang setiap saat nempel kini sudah harus beranjak menuju sekolah. Rasa khawatir, cemas dan takut terjadi sesuatu kepada si kecil biasanya muncul pada momen ini, bahkan bisa jadi orangtua semalaman tidak bisa tidur, karena memikirkan hari pertama sekolah.
Perasan cemas yang dirasakan orangtua banyak dirasakan kembali oleh si kecil, yang tadinya si kecil yakin mau sekolah, tiba-tiba ketika sudah tiba di kelas menangis, tidak mau lepas dari pegangan orangtua.
Hal ini sangat wajar terjadi, tetapi tentu saja tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, karena jika dibiarkan, maka si kecil tidak akan mandiri ketika berada di sekolah. Oleh karena itu orangtua sebaiknya melakukan langkah-langkah berikut, agar perpisahan dengan si kecil tidak penuh drama:
Ikhlas dan yakinkan hati bahwa si kecil akan baik-baik saja ketika berada di sekolah.
Berikan penguatan saat si kecil akan tidur dan berangkat sekolah (contoh: hari ini kamu akan bermain bahagia bersama teman-teman dan bu guru di sekolah)
Perpisahan yang singkat. Jadikan perpisahan dengan ananda singkat, cukup mengantar, pamit dan datang kembali ketika akan menjemput. Mengapa seperti itu? hal ini dilakukan agar kecemasan anak tidak terlalu lama, dan mudah dialihkan oleh guru dengan kegiatan atau teman-teman yang ada di sekolah.
Tidak mencuri-curi pandang / mengintip ketika sikecil sudah dengan gurunya, karena jika mata anak tidak sengaja menangkap anda, siap-siap sikecil yang sudah sudah tenang akan histeris kembali.
Apresiasi setiap keberhasilan si kecil ketika dapat berkegiatan di sekolah.
Melepas anak pertama untuk sekolah tidaklah mudah, akan tetapi semua perlu keikhlasan, ketenangan dan keyakinan suatu waktu si kecil akan siap, mandiri dan percaya diri.
Dalam agama Islam anak bukanlah milik kita, anak adalah titipan. Akan ada masanya kita akan berpisah dengan mereka, ketika si kecil sekolah, ini hanya salah satu prosesnya.
Ketika anak sekolah, ada orangtua yang belajar untuk tawaqal, guru yang sedang menjalankan amanah, dan sikecil yang sedang belajar untuk mandiri. Oleh karena itu carilah sekolah yang anda percaya dapat menjaga amanah tersebut.
Hari pertama sekolah bukan hanya anak yang belajar dunia baru, tetapi ada orangtua yang belajar melepas dan mempercayakan si kecil kepada Allah melalui sekolah yang telah dipilih.