Montessori Tidak Menganjurkan Pemberian HP pada Anak Balita.
Suatu ketika tanpa sengaja aku mendengar perbincangan dua orang ibu muda. Mereka berbincang soal pendidikan dan pengasuhan anak balita. Salah satu ibu menyarankan,"biar si adek cepet lancar ngomong, sering-sering dikasih lihat youtube bu". Seketika aku menjawab,"kalau pengen cepet lancar ngomong ya sering-sering diajak bicara dong bu, bukan ditontonin youtube. Orang dulu juga bisa lancar ngomong padahal gak dikasih tonton youtube di HP". Tentu jawaban ini kulontarkan dalam hati saja, tanpa suara.
Peristiwa itu menyadarkanku tentang realita pengasuhan dan pendidikan anak balita di Indonesia hari ini. Banyak anak balita tumbuh diasuh dan dididik oleh HP. Kita bisa melihatnya dalam keluarga-keluarga di rumah, dimana anak balita fokus melihat tontonan di HP sementara ibunya menyuapi makan. Atau si anak balita melihat tontonan di HP dengan tenang sementara orang tuanya mengerjakan pekerjaan rumah. Bahkan ketika sedang makan bersama di rumah makan, si anak balita disuguhkan makanan dan tontonan di HP sekaligus! Masih banyak lagi contoh-contoh di sekitaran yang bisa kita sebut.
Memberikan HP pada anak balita dapat mengurangi beban orang tua yang mengasuhnya namun ada hal buruk yang mengikuti. Orang tua dapat melakukan pelbagai pekerjaan rumah tanpa rasa khawatir karena anaknya duduk tenang menghadap layar HP. Tak ada ketakutan dari orang tua seperti bila anaknya dibiarkan bermain sendiri dengan lingkungan sekitarnya tanpa pengawasan. Baik di dalam maupun di luar rumah. Ya, bahaya mungkin tidak ada namun dampak buruk akibat berlebihan menatap layar menghinggapi. HP dan segala macam tontonannya memang menyediakan hiburan bagi anak balita. Namun itu hanya mengajarkan kesenangan pada anak, bukan mengajarkan bagaimana hidup menjadi manusia. Anak balita seharusnya dididik dengan kasih sayang manusia sehingga tumbuh sebagai manusia yang semakin utuh.
Meski tidak menyasar secara khusus bagi anak balita, beberapa negara maju sudah berpikir untuk membatasi penggunaan HP pada anak. Pemerintah Australia resmi memberlakukan aturan pelarangan penggunaan media sosial bagi anak berusia di bawah 16 tahun pada 10 Desember 2025 lalu. Akibat capaian akademis yang merosot, Finlandia menggalakkan kembali pembelajaran menggunakan buku, pensil, dan kertas. Penghentian penggunaan gadget dan perangkat digital justru meningkatkan konsentrasi pelajar. Ormiston Academies di Inggris melarang penggunaan HP bagi pelajar di 42 sekolahnya supaya mengurangi dampak negatif akibat berlebihan menatap layar. Sementara Norwegia, Jerman, dan Belgia memiliki regulasi batas usia minimal pemilikan akun media sosial pada anak rentang 13 hingga 16 tahun. Pelajar di bawah batas usia minimal pada tiga negara tersebut boleh memiliki akun media sosial bila diijinkan orang tua.
Secara umum pembatasan HP bagi pelajar dilakukan karena penggunaan berlebihan dapat mengganggu kesehatan mental dan fisik. Kalau pelajar yang sudah lebih matang secara kognitif saja dapat terganggu kesehatan fisik dan mentalnya tidakkah hal demikian dapat pula terjadi pada anak balita? Para orang tua seharusnya sadar bahwa memberikan HP pada balita dengan tontonan khusus anak pun tidak serta merta mendidik mereka.
Bertahun-tahun lalu, Maria Montessori meneliti dan merancang suatu model Pendidikan bagi anak balita. Berdasarkan penelitiannya, Montessori menyatakan bahwa bayi merupakan manusia yang belum lengkap sehingga dalam proses hidupnya harus menyelesaikan pembentukan dirinya. Atas dasar hasil penelitian itu, Montessori berpendirian bahwa pendidikan harus sudah dimulai semenjak bayi lahir.
Lantas apakah Montessori akan menganjurkan pemberian HP pada anak balita seandainya ia hidup hari ini? Bahkan bila itu dimaksudkan sebagai sarana pendidikan? Jawabannya saya yakin tidak! Terus, kenapa tidak? Memangnya seperti apa konsep Pendidikan Montessori? Bagaimana konteks sejarah hidup Maria Montessori sehingga ia merancang suatu konsep pendidikan tersendiri?
Konsep Pendidikan Montessori pada mulanya tumbuh dan berkembang seiring proses sejarah hidup Maria Montessori sendiri. Awalnya Montessori studi di jurusan teknik, namun tidak dilanjutkan oleh karena metode pendidikan yang ia rasa masih konvensional. Ia lalu mencoba masuk ke jurusan kedokteran pada 1890. Diterimanya Montessori di jurusan kedokteran menjadikannya mahasiswi kedokteran pertama di Universitas Roma.
Selepas menyelesaikan studi kedokteran pada 1899 Montessori bekerja di sekolah Orthoprenic di Roma. Ia berkesempatan melakukan observasi dan percobaan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus atau terbelakang secara mental selama dua tahun bekerja disana. Sebetulnya Montessori bertugas untuk mengurus kesehatan anak-anak dengan gangguan mental tersebut. Ia melihat anak-anak itu sebagai lemah mental. Mereka lemah secara kejiwaan dikarenakan banyak faktor, seperti: hidup sebagai yatim-piatu; diterlantarkan orang tuanya; buta; tuli; dan cacat fisik lainnya. Anak-anak itu dijadikan satu dan ditempatkan pada suatu rumah dengan kondisi yang kurang manusiawi. Akibat lingkungan tempat tinggalnya, anak-anak itu terlihat bersikap seperti binatang.
https://www.kompasiana.com/cornelius00946/694e2163c925c42b8648b542/montessori-tidak-menganjurkan-pemberian-hp-pada-anak-balita-seandainya-ia-hidup-hari-ini
Kreator: Cornelius Bayu Astana
Bagikan artikel ini:
📲 Share WhatsApp