👀 Pengunjung Hari Ini: 0
Logo Anak Bintang School Sleman

Anak Bintang School

Memuat AI Greeting...
Ironi Guru PAUD di Balik Mimpi 13 Tahun Wajib Belajar
📚 Artikel Edukasi
Artikel Anak Bintang School

Ironi Guru PAUD di Balik Mimpi 13 Tahun Wajib Belajar

PAUD dan TK belum mendapatkan perhatian serius. Padahal, sejatinya jejang tersebut  menjadi bagian dari program Wajib Belajar 13 Tahun.

15 Okt 2026 11:59 WIB · Pendidikan & Kebudayaan

Program wajib belajar 13 tahun yang digencarkan pemerintah, terutama untuk pendidikan anak usia dini atau PAUD, perlu diimbangi dukungan peningkatan kesejahteraan bagi para tenaga pendidiknya. Tak sedikit guru PAUD hanya memperoleh honor yang sangat terbatas.

Honor itu pun diperoleh dari sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) dari orangtua murid. Nilainya ada yang terbatas Rp 500.000 yang dibayarkan per tiga bulan untuk dibagi ke beberapa guru.

Padahal, peran guru PAUD atau TK cukup berperan penting untuk tumbuh kembang anak, terutama untuk berkomunikasi.

Yati (58), guru PAUD Melati 08 yang sudah mengajar selama 10 tahun, mengatakan dirinya bekerja secara sukarela. Ia tak menerima gaji sepeser pun. ”Saya cuma dapat gaji dari SPP (sumbangan pembinaan pendidikan) anak-anak, itu pun rendah sekali,” keluhnya.

Nasib serupa menimpa Tarsi (56). Selama 22 tahun mengajar, Tarsi tak kunjung mendapat kesejahteraan yang layak.

Selama mengajar puluhan tahun, mereka hanya mengandalkan gaji yang berasal dari SPP murid. Tiap tahun, SPP murid mengalami kenaikan. Tahun ini, tiap murid membayar sebesar RP 75.000 per bulannya. Dengan mengandalkan SPP ini, guru-guru di PAUD Melati 08 bertahan. 

Dua perwakilan guru PAUD Melati 08 mengaku, mendapatkan donasi sebesar Rp 500.000 yang dibayarkan per tiga bulan. Donasi ini kemudian dibagi merata kepada tiap-tiap guru di sekolah itu yang berjumlah 4 guru.

Jika memang syarat menjadi guru PAUD saat ini adalah minimal sarjana pendidikan PAUD, kenapa sih kesejahteraannya tidak dijamin. (Yati)

Yati juga mengeluhkan, saat ini guru PAUD wajib mengenyam pendidikan formal minimal sarjana pendidikan PAUD. Dirinya yang hanyalah lulusan SLTA dan sudah berusia lanjut, tidak dapat mengenyam pendidikan lanjutan lagi. Persyaratan usia ini  membuatnya terkendala mendapatkan upah yang layak.

”Jika memang syarat menjadi guru PAUD saat ini adalah minimal sarjana pendidikan PAUD, kenapa sih kesejahteraannya tidak dijamin,” keluhnya. 

Berdasarkan catatan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), 97 persen PAUD masih lebih banyak diselenggarakan oleh pihak swasta, termasuk PAUD Melati 08. Sementara itu, PAUD yang dikelola negeri hanya 3 persen. 

Tenaga pendidik PAUD yang terlatih dan berkompeten pun hanya 3,03 juta guru. Di antara mereka, yang memiliki kualifikasi diploma 4 atau sarjana hanya 50,21. Sementara itu, hanya 16 persen yang memiliki sertifikat pendidik. Adapun Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (Himpaudi) yang mengadakan sertifikasi pendidik tersebut.

Sejak 2015, Himpaudi telah melakukan audiensi ke Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Dalam gugatan itu, mereka memperjuangkan kesejahteraan para guru PAUD.

Setelah perjuangan panjang, gugatan ini membuahkan hasil. Para guru PAUD yang mengajar di sekolah nonformal mendapatkan tambahan donasi dari kecamatan. Namun, donasi itu pun hanya diberikan untuk dua guru di tiap sekolah.

Padahal, menurut Yati, berdasarkan pengalamannya mengajar siswa PAUD selama puluhan tahun, pendidikan usia dini itu sangat penting untuk pembentukan kognitif dan karakter anak. Oleh karena itu, program wajib belajar 13 tahun yang dicanangkan pemerintah merupakan program yang baik.  

”Wajib belajar 13 tahun itu memang sangat penting karena usia dini itu masa golden age dari usia 3 tahun. Di PAUD diajarkan dasar motorik, kognitif, interaksi, numerasi, bercerita, literasi. Kita juga berupaya membentuk karakter anak,” ujarnya.

Pentingnya pendidikan anak usia dini dalam membentuk kognitif dan karakter dirasakan pula oleh orangtua murid di beberapa sekolah TK dan PAUD. Vini (31), salah satu orangtua murid PAUD Melati 08, memutuskan untuk memasukkan anaknya ke sekolah PAUD agar anaknya berkembang tidak hanya secara kognitif, tetapi juga sosial. 

Sejak umur 3 tahun, anaknya didiagnosis terlambat bicara (speech delay). Kondisi ini, salah satunya dipicu oleh kecanduan gawai sejak usia balita. Vini kerap memberi Bunga gawai karena ia keteteran dalam mengurus rumah tangga. Gawai diberikan ke anaknya sebagai distraksi agar ia tidak kerepotan mengurus dua anak lainnya. Namun, kebiasaan ini ternyata berdampak negatif. 

Vini akhirnya membawa anaknya tersebut ke dokter untuk terapi. Semenjak itu pula, ia tidak pernah lagi memberikan gawai kepada buah hatinya. Dokter juga menyarankan Vini untuk memberikan kegiatan yang lebih interaktif bagi anaknya, seperti menggambar, menulis, dan bermain di luar rumah untuk melatih sensorik dan motorik. Selain itu, Vini juga dianjurkan untuk memasukkan anaknya ke PAUD agar berinteraksi secara sosial. Dengan mengikuti saran itu, Vina merasakan perubahan, anaknya menjadi lebih aktif dan kosakatanya bertambah. 

Vini juga dianjurkan untuk memasukkan anaknya ke PAUD agar berinteraksi secara sosial. Dengan mengikuti saran itu, Vina merasakan perubahan, anaknya menjadi lebih aktif dan kosakatanya bertambah.

Manfaat dari pendidikan PAUD juga dirasakan oleh Dwi Indriani (29), salah satu orangtua murid di PAUD Melati 08. Awalnya, anaknya pemalu dan takut untuk berinteraksi dengan sekitarnya. Namun, setelah menjalani pendidikan tingkat A di PAUD ini, anaknya jauh lebih komunikatif dan berani. 

Dwi merasa pendidikan dini merupakan tahapan penting untuk membentuk mentalitas anaknya.  ”Aku kenalin dunia PAUD biar dia enggak kaget pas masuk TK nanti,” ujarnya. 

Perkembangan kognitif anaknya juga berkembang pesat. ”Pas awal masuk tuh benar-benar takut kayak enggak berani ke kelas sendiri. Sekarang juga lebih fokus nulisnya. Di rumah dia udah lumayan hafal-hafal gitu ABC, 1 2 3 dia udah mulai hafal,” katanya. 

Berbeda dengan anak lainnya yang sempat mengenyam pendidikan dasar di PAUD atau TK, Nisa (25) memiliki pengalaman berbeda. Ia langsung dimasukkan ke sekolah dasar (SD) oleh orangtuanya karena kendala biaya. Ketika dewasa, ia merasa sulit bersosialisasi. Selain itu, kemampuan sensorik dan motoriknya juga menjadi terhambat. 

”Saat dewasa, aku jadi tidak percaya diri untuk bergerak atau berolahraga,” ujarnya. 

PAUD atau TK juga memiliki fungsi pengawasan kedua selain orangtua. Di PAUD dan TK, anak-anak tidak hanya diajari keterampilan kognitif dan sensorik, tetapi juga pembentukan karakter. Beberapa kebiasaan diajarkan oleh guru PAUD dan TK, seperti norma, sopan santun, 3S (senyum, sapa, salam). 

Guru TK Negeri Bendungan Hilir, Ismi Farianti (38), menyatakan, sebagai guru TK, ia tidak hanya memfokuskan pendidikan anak sebelum memasuki SD. Ia juga menguatkan fondasi karakter murid. 

”Pendidikan PAUD atau TK tidak hanya mempersiapkan anak untuk mengenyam pendidikan SD, mereka juga perlu pendidikan anak usia dini yang dimulai dari pendidikan karakter. Ini akan membentuk anak memiliki karakter yang baik, kemandirian, sosial, dan emosional,” tuturnya.

Sekolah PAUD dan TK juga menjadi jenjang pendidikan yang dapat mendeteksi dini kebutuhan spesial pada anak. Beberapa anak terlihat berkebutuhan khusus ketika memasuki PAUD atau TK. 

Beberapa anak terlihat berkebutuhan khusus ketika memasuki PAUD atau TK.

Guru memiliki peranan penting dalam deteksi dini ini. Mereka telah dibekali pengetahuan untuk mendampingi anak berkebutuhan khusus. Kemendikdasmen juga menganjurkan sekolah TK untuk menerapkan prinsip inklusi.

Pemerintah juga sering mengadakan pelatihan guru untuk menangani siswa berkebutuhan khusus. Namun, pelatihan ini terkadang dilakukan ketika kegiatan belajar mengajar (KBM) dilaksanakan sehingga ia harus meninggalkan anak-anak di kelasnya dan menitipkan kepada guru lain. Namun, belakangan, pelatihan ini diadakan secara daring sehingga tidak lagi mengganggu proses KBM.

Bagikan artikel ini
WhatsApp