YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyoroti fenomena masih tingginya minat masyarakat menyekolahkan anak ke sekolah swasta meski biaya pendidikan menjadi salah satu keluhan yang kerap disampaikan orangtua.
Menurut Hasto, kondisi tersebut terlihat dari masih banyaknya kursi yang tersedia di SD negeri di Kota Yogyakarta pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026.
Di sisi lain, sejumlah sekolah swasta tetap menjadi pilihan masyarakat meski memerlukan biaya pendidikan yang lebih besar.
Hasto mengaku kerap menerima keluhan terkait biaya pendidikan anak saat agenda open house yang rutin digelar setiap Rabu.
Namun, pada saat yang sama, masih banyak orangtua yang memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah swasta.
"Masyarakat sebetulnya daya belinya tidak bagus-bagus amat. Sebetulnya, nafsu besar, tenaga kurang. Sementara di SD negeri kita sendiri masih kosong, masih banyak kursi yang tersedia secara gratis," kata Hasto, dikutip dari Tribun Jogja, Rabu (24/6/2026).
SD Negeri Masih Sisakan 1.000 Kursi
Hasto mengungkapkan, total daya tampung siswa kelas 1 di seluruh SD Negeri Kota Yogyakarta mencapai sekitar 3.600 hingga 3.700 kursi.
Namun, jumlah siswa yang mengisi kursi tersebut baru berkisar 2.500 hingga 2.700 anak.
Artinya, masih terdapat sekitar 1.000 kursi yang belum terisi pada tahun ajaran baru.
"Jadi sisa kursinya ada sekitar 1.000. Bayangkan, ada 1.000 kursi yang tidak diminati oleh warga masyarakat kita sendiri. Ini kan ironis," ujarnya.
Menurut Hasto, kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah karena sekolah negeri masih memiliki kapasitas yang cukup besar untuk menampung peserta didik baru.
Meskipun sejumlah SD negeri masih kekurangan murid, Pemerintah Kota Yogyakarta belum berencana melakukan penggabungan sekolah atau regrouping.
Hasto mengatakan pemerintah daerah masih akan mendorong berbagai upaya pembenahan di sekolah negeri agar lebih diminati masyarakat.
Ia kemudian mencontohkan SD Negeri Pakualaman 1 yang sebelumnya hanya memperoleh lima murid baru dalam satu tahun ajaran.
Namun, jumlah siswa baru di sekolah tersebut meningkat setelah dilakukan berbagai upaya pembenahan dan penguatan pengelolaan sekolah.
"Sementara saya belum mau regrouping, kita coba dorong dulu. Contohnya SD Negeri Pakualaman 1, tahun-tahun lalu itu cari siswa tertatih-tatih, cuma dapat lima murid, padahal guru dan fasilitas kita penuhi," kata Hasto.
Ia menyebut SD Negeri Pakualaman 1 menjadi salah satu contoh sekolah yang mampu meningkatkan jumlah peserta didik setelah melakukan berbagai pembenahan.
"Tapi, begitu kepala sekolahnya kita dorong, alhamdulillah tahun kemarin bisa dapat 25 murid. Ini contoh peningkatan nyata yang mau saya lihat di sekolah-sekolah lainnya juga," lanjutnya.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul 1.000 Kursi SD Negeri di Jogja Tak Diminati: Terancam Kurang Murid, Kepala Sekolah Didorong Inovasi.
Sekolah di Yogyakarta kekurangan murid
1.000 Kursi SD Negeri di Jogja Masih Kosong, Wali Kota Soroti Minat Orangtua ke Swasta
Kota Yogyakarta Kekurangan 1.000 Murid SD, Wali Kota Hasto Minta Kepala Sekolah Promosi Cari Murid Langsung